23 Agustus 2015

Hati Persemayaman El-Rachman


القلب عرش الرحمن
Oleh Shodiqiel Hafily
23 Januri 2004

Dalam pengelanaannya, Tuan Guru Abdul Wahid, tiba di satu desa. Di sana, beliau mendengar berita adanya seorang yang hebat, laur biasa! Telah 50 tahun bertapa di sebuah gua, tanpa pernah pulang dan tanpa perbekalan apapun. Tertarik, beliau mengunjunginya. Tiba di pintu goa, belau bersalam dan dijawab lirih dari dalam. Setelah saling berhadapan, Tuan Guru menanyakan keadaannya.

“Bagaimana, apakah Anda telah qana’ah denganNya?”
“Belum.” Jawabnya.
“Apakah Anda telah merasa terhibur olehNya?”
“Belum.”
“Apakah Anda telah ridlo terhadapnya?”
“Belum.”
"Bukankah hanya shalat dan puasa bekal Anda selama ini?”
“Ya, benar.”
“Saya sungkan harus memberitahu Anda, bahwa apa yang Anda tekuni sekian lama ternyata madkhulah, tampak baik dari luar tapi dari dalam gosong.”

Tuan Guru segera berpamit. Sepanjang jalan beliau memendam iba di dada. Kasihan, lima puluh tahun mencari al-haqq, menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan meninggalkan kesenangan, ternyata hanya berkubang dalam bentuk nafsu-kesenangan yang lain. Takbir, tahmid dan tasbihnya hanya melayang-layang di wilayah pikiran.

Ketika bertemu beliau, aku bertanya, “Mengapa hal itu bisa terjadi, masak sih, amalannya lima puluh tahun sebegitu rendah nilainya?!”
“Tidak ada amalan yang melebihi keutamaan amalan hati. Ibarat cinta sepasang kekasih, apalah artinya bila tidak SEHATI? Coba renungkan, qona’ah adalah maqam orang yang berkeyakinan tinggi, uns adalah maqam para pecinta dan ridlo merupakan maqam orang yang tawakkal total. Ketiganya, yakni yakin, cinta dan kepasrahan adalah amalan hati.”

Aku mengangguk lugu menyimak pemaparan beliau. “Lalu..,” tanyaku lagi, “apa yang harus saya lakukan agar saya yang baru mulai belajar menemukan al-haqq tidak mengalami hal yang serupa dengan pertapa itu? Agar penghambaannku kepada Tuhan benar-benar bisa ‘duduk’ di dalam hatiku. Kata orang, hati adalah ‘persemayaman’ Dia yang Maha Penyayang.”

Beliau hanya menyuruhku berwirid QS. An-Nur, 35. Aku menurut sambil sesekali mencoba memahami artinya. Tapi, hingga saat ini aku belum bisa. Yah, mudah-mudahan, satu saat nanti, Allah berkenan menjadikan hatiku sebagai arsy-Nya, agar apa yang kuterangkan kepada para jamaah di kampung, bahwa shalat adalah sarana mi’rajnya orang mu’min, tidak sekedar omongan hampa tanpa membuktikan kebenarannya. Sebab, kata Nabi, likull qawl mishdaq, pada setiap ucapan ada pembuktiannya. Mudah-mudahan. Mohon bimbingan dan pangestu, Tuan Guru. Amin.

Kebiasaan, tiap kali beramin, aku ndingkluk membaca shalawat berharap syafaat. Ketika aku mau salaman, beliau sudah tidak di depanku lagi. Entah kemana. Tapi, aku yakin seyakin-yakinnya, tuan Guru tahu permohonanku.[]
 
Salam Persahabatan ParaDIsE.group

0 komentar :

Poskan Komentar

Silakan komentar yang baik dan sopan; Bisa Jowoan, Cak Madureh, 'Arabyat, English Arema, Melayu-Indonesia..