23 Agustus 2015

Ramadhan Bersuka Cita?


Ramadhan Bersuka Cita?
Oleh Shodiqiel Hafily
01 Ramadhan 1429 H

"Barangsiapa bersuka cita sebab memasuki Ramadlan maka Allah menghalangi jasadnya dari neraka". Demikian kata Nabi Muhammad saw. Ada dua suka cita sebagai penjabaran hadits itu, 1) suka cita ketika berbuka puasa, 2) suka cita saat berpulang dapat bersua dengan Allah, Tuhan Yang Mahakuasa.

Suka cita berbuka puasa, tentu saja, hanya bagi yang menunaikan puasa. Sedang yang tidak berpuasa maka apa yang dinantikannya? Bertemu dengan Tuhan sebagai penjabaran ke-2, Nabi bilang bahwa khusus pahala puasa Allah menjanjikan, "Ana ajzy bihi" (Aku [sendiri] yang membalasnya). Penggalan hadits itu dapat ditafsirkan bahwa Allah memberi pahalanya tanpa batasan ukuran seperti diterapkan pada jenis ibadah-ibadah lainnya. Contoh, sedekah 1 dibalas 10, shalat berjamaah bernilai 27 dll. "Tanpa batasan ukuran" berarti tidak kira-kira dalam membalasnya.

Penafsiran lainnya adalah bahwa kelak akan mendapatkan balasan langsung dari Hadirat Allah tanpa melalui malaikat penyampai pahala atau dalam bentuk yang siap pakai seperti kemewahan fasilatas surga. Para ulama menuturkan bahwa di kehidupan akhirat, tidak setiap individu dapat bertemu Tuhan. Yang bertemu pun bermacam-macam. Ada yang setiap hari bersua Tuhan, seminggu sekali, sebulan sekali dst tergantung derajat dan amal saleh yang diperbuatnya. Maka orang yang berpuasa, dengan penafsiran di atas, dipastikan bertemu dengan Allah.

Hal lain yang patut dijadikan alasan bersuka cita adalah terbelenggunya setan, tertutupnya pintu-pintu neraka dan terbukanya pintu-pintu surga.

SETAN TERBELENGGU
Setan manakah yang terbelenggu, bukankah selagi berpuasa tetap saja banyak godaan setan? Itu sederetan pertanyaan yang dulu - semasa kecil - sering mengusik pikiran saya. Memahami pertanyaan ini ada baiknya kita kenali apa itu definisi setan.

Dalam "Fawakih Al-Janiyah" atau "Kawakib Durriyah" dikemukakan bahwa setan adalah "ajsam nariyah qadir ala al-tasyakkul biasykal sayyiat" (unsur-unsur jenis api [panas] yang dapat mengubah bentuk dalam wujud-wujud yang buruk). Sebuah hadits menuturkan bahwa meletakkan pakaian secara bergantungan (tidak dilipat rapi) berpotensi menjadi sarang setan.

Memperbandingkan hadits dan definisi di atas, maka setan dapat diartikan hawa nafsu dengan segala perwatakannya yang destruktif dan dapat pula diartikan segala sumber penyakit. Bukankah pakaian bergelantungan dikrasani nyamuk?

Orang berpuasa berarti membelenggu hawa nafsu dan memelihara perut yang memuat sampah kotoran sebagai sarang dari segala penyakit. Anda yang pakar kesehatan tentu lebih fasih menjelaskan hal ini sebagaimana hanya ahli nurani yang dapat menjelaskan setan yang asli.

PINTU NERAKA TERTUTUP
Pada bulan-bulan selain Ramadhan, semua pintu neraka terbuka. Bukan untuk memasukkan para pendosa, karena surga maupun neraka - secara umum - baru dihuni setelah dilaksanakan hisab (perhitungan amal). Lalu apa manfaat pintu neraka ditutup?

Di alam barzakh (alam kubur), para pelaku kemungkaran, kemaksiatan dan dosa mengalami siksa kubur. Diantaranya adalah dengan diperlihatkan panas neraka dengan segala bentuk-bentuk siksa yang menyakitkan yang kelak akan dijalaninya. Penampakan demikian tentu menjadi awal siksaan tersendiri. Di bulan Ramadhan, semua itu ditutup sebagai dispensasi bagi mereka.

PINTU SURGA TERBUKA
Dibukanya pintu-pintu surga adalah sebagai penghargaan dan penghibur bagi orang-orang saleh dan merupakan awal kenikmatan tersendiri menyaksikan segala macam kesenangan dan kemewahan yang bakal diterimanya kelak setelah menjalani hisab. Tentu hal itu mengurangi 'kejenuhan' menunggu ratusan bahkan ribuan tahun untuk menikmatinya.

Apakah setiap Ramadhan ditampilkan gambaran yang sama? Baik gambaran surga maupun neraka tidak selalu ditampilkan sama. Hal itu terkait erat dengan jejak-jejak amal yang dilakukan seseorang ketika hidup di dunia. Boleh jadi anak cucu, amal jariyah, jaringan sosial seseorang yang dibangun selama hidupnya berkembang pesat dan baik serta lebih besar menebarkan manfaat, maka pahalanya tentu mengalir semakin banyak.

Sebaliknya, bagi para pendosa, boleh jadi kemungkarannya diteruskan oleh anak cucu, teman atau ditiru orang lain, misalkan korupsinya semakin menyengsarakan rakyat, rumah bordilnya maju pesat sehingga lebih banyak lagi menampung orang-orang tersesat dan terjerat nafsu bejat. Maka dosa-dosa hasil rintisannya akan semakin menumpuk dan menjadikannya semakin tersiksa. Na'udzu billah.[]
Salam Persahabatan ParaDIsE.group

0 komentar :

Poskan Komentar

Silakan komentar yang baik dan sopan; Bisa Jowoan, Cak Madureh, 'Arabyat, English Arema, Melayu-Indonesia..