23 Agustus 2015

Maqalat Hukama' Adalah Hikmah


Maqalat Hukama' Adalah Hikmah
Oleh Shodiqiel Hafily
01 Juni 2008

Syaikh Aby Ali Ad-Daqqaq menuturkan bahwa suatu hari Al-Wasithy berkunjung ke Nysabur. Sesampai di sana, beliau bertanya kepada santri-santri Aby Utsman, “Apa saja yang diperintahkan guru kalian?” Mereka menjawab, “Beliau menyuruh kami agar senantiasa berbuat taat dan dan senantiasa introspeksi dari kekurangan-kekurangan dan keteledoran di dalam menjalani hidup.

"Wah, kalau begitu, gurumu telah menyuruhmu dalam Mujusiisme murni. Tidakkah beliau perintahkan agar kalian hilangkan saja segala ketaatan dan introspeksi itu dan meneropong cara-cara menumbuhkan ketaatan serta jalan-jalan yang jadi penyebab timbul keteledoran?”
Kritik itu membuat mereka tertunduk, lesu. Betapa mujahadah yang telah mereka lakukan selama ini tiba-tiba dianggap sebagai bentuk pengabdian ala Majusi. Jemaat mengipasi dan menyediakan gas dan kayu bakar secukupnya agar nyala api stabil dan tidak padam. Memang, api menyala berkobar-kobar, tapi makin besar nyalanya semakin panas dan gerah dirasakan para jemaat. Sementara dalam kepanasan dan kegerahannya, jemaat tidak memperoleh apa yang dibutuhkannya agar tetap semangat dan kuat terus-menerus menunaikan pengabdiannya. Tidak ada suplai air, makanan yang cukup dan kebutuhan lainnya untuk menopang energinya. Apalagi pelipur hati yang jenuh, malah boleh jadi peluhnya sendiri ditadahi oleh pengawas untuk campuran gas! Itulah kiranya yang terbersit di benak-benak mereka selaku santri-santri dalam maqam tempaan.

Begitu pula umumnya para juru dakwah, kiai dan mursyid masa kini. Umat dikontrol ketat agar selalu taat dan pelanggaran-maksiat dikecam penuh kutukan-laknat. Jarang yang menampilkan keteladanan dan bangkit bersama memberdayakan umat untuk menjalani hidup yang bahagia penuh nikmat dan rahmat. Laqad ja'akum tinggallah sebagai amalan kepemimpinan untuk menundukkan tanpa penghayatan harish 'alaykum bil-mu'minin ro'uf-rahim yang memberdayakan.

Qur'an, di pelbagai tema, banyak menyebutkan imbalan pahala. Macam-macam imbalan dijanjikan tergantung jenis amalan; apartemen (griya tawang) dari kaca-kaca biru, villa-villa dengan aneka puspa indah semerbak di taman sari, puluhan bidadari siap melayani dll. Jika tidak penting untuk dijadikan pedoman dan contoh dalam membangun masyarakat, hal demikian tidak akan disinggung-singgung berkali-kali. Dakwah Nabi musa dan beberapa nabi lainnya juga menawarkan perbaikan taraf hidup, di "bumi yang dijanjikan".

Tidak mengherankan mengapa banyak orang susah lebih suka mendatangi dukun (orang pintar) atau paranormal ketimbang para ustadz atau kiai. Karena dianggap lebih menjanjikan terbukanya harapan akan perubahan nasib di kehidupan kini ketimbang penyadaran tentang kesabaran hati dengan janji-janji pahala yang akan diterima di akhirat nanti.

Beda dengan gurunya, Abu Utsman. Beliau memahami kata-kata Al-Wasithy, sahabatnya, itu sebagai sebuah peringatan, komentar, dan dukungan. Beliau boleh merasa lega dan gembira. Pertama, sahabatnya telah membantu memelihara hati para santri agar selamat dari ‘ujub ketika disebut-sebut bentuk ketaatan dan introspeksi. Kedua, beliau memahami penilaian Al-WAsithy bahwa para santri itu telah cukup matang, bersih dan siap dialihkan ke maqam berikutnya. Ketiga, mengetahui kesiapan sahabatnya untuk bersama-sama "menebar jala sutra menjaring pahala". Siap turun gunung.

Bagaimana kata-kata Al-Wasithy itu melahirkan kesimpulan-kesimpulan positif semacam itu? Ucapan itu tergantung dari kondisi hati yang menyerap dan menerimanya. Jika ditangkap dan dicerna oleh hati yang penuh bara api-nafsu, maka kata-kata Al-Wasithy itu bisa menjadi pemicu kemarahan dan timbulnya permusuhan. Sebaliknya, hati yang penuh cahaya hikmah ibarat lautan, bangkai anjingpun tidak mempengaruhi kesucian dan kebersihannya. Karena di dalamnya telah tersedia ikan-ikan dan predator lain yang berfungsi sebagai penetralisir demi kebersihan dan kesehatan air.

Maqalat para hukama' memang sarat makna dan hikmah. Dapat mengena banyak sasaran yang berbeda-beda dan menancap kuat di dalam hati. Hal demikian terjadi karena ucapan mereka live (punya ruh). Bukan sekedar kata mutiara dengan keindahan sajak-sajaknya. Sebab mereka telah menjalani tempaan-mujahadah yang cukup dengan dengan amalan nyata serta berdiri kokoh di atas koridor syari'at.
من ألزم نفسه أداب الشريعة نور الله قلبه بنور الحكمة

"Barang siapa mengikatkan dirinya pada budi pekerti syariat maka Allah terangkan hatinya dengan cahaya hikmat".

Tebar Jala Sutra Jaring Paha-la (?)
Bukan dalam segi syirik dan penyimpangan akidah yang hendak disampaikan Al-Wasithy, melainkan sebuah kritik sosial. Membangun dan melestarikan rumah-rumah ibadah bukan hal buruk sebagaimana ibadah individual juga bukan kemungkaran. Nyala api tidak boleh padam, akan tetapi jangan berakibat kegerahan pada diri sendiri apalagi sampai menyulut terjadinya kebakaran yang dapat menimbulkan kerugian besar.

Hukum halal-haram, baik buruk, positif-negatif dsc bukan hal yang samar lagi bagi masyarakat, terlebih saat ini. Akan tetapi pelanggaran-pelanggaran dan penyelewengan terjadi lebih karena faktor kenekadan dan pengaruh lingkungan. Sebab pada hakikatnya, dalam diri manusia itu tersimpan god-spot (fitrah-mailah). Yakni kecenderungan kepada hal-hal yang baik dan benar. Al-insan ibn bi’atih, manusia adalah produk lingkungannya.

Oleh karena itu, Al-Wasithy mengajak untuk menemukan akar permasalahan, problem solving mengapa ketaatan dan kesadaran masyarakat untuk berperilaku baik menjadi kendor dan bukan sanksi-ancaman hukuman apa yang paling efektif terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Karena itulah maka fikih Umar bin Khatthab dalam kasus had pencurian diberlakukan kondisional. Maraknya kejahatan juga tak lepas dari akar permasalahan yang tak terselesaikan karena solusi yang bersifat pengalihan sementara. Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah salah satu contohnya, penggusuran rumah-rumah kardus, razia tempat-tempat pelacuran dan pengusiran para PKL adalah sederet contoh lainnya.

Beberapa pekan lalu, sebuah harian terkemuka melansir fenomena grey-chiken di kota metropolis, Surabaya. Secara umum, 3 macam alasan diajukan mereka; 1) Keterhimpitan oleh kondisi ekonomi hingga terpaksa menjual kehormatan atau tertipu oleh para penyalur tenaga kerja. 2) Terpengaruh gaya hidup glamour dan 3) Broken-home.

Saya yakin, dalam hati kecil mereka sebenarnya masih tersimpan rasa malu menjadikan kemaluan mereka layaknya tempat sampah. Kehormatan dan kemaluan mereka menjadi banting harga karena hal-hal dikemukakan di atas. Apapun dalihnya. Dan, itu, memang bisa diminimalisir dengan cover kesadaran yang tulus dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama. Bahwa sekiranya kokoh dalam takwa, pasti Allah berikan jalan keluar yang mulia. Boleh jadi, tiba-tiba tumbuh kesadaran di hati para pelanggan pria hidung belang berdompet tebal yang dengan hati tulus mengentaskan mereka tanpa menodai kehormatannya. Betapa mulia dan betapa noda-noda itu luruh seketika dan jiwa kembali suci bersih sebening kaca.

Keberhasilan dakwah tetap mesti seiring dengan pemberdayaan dan perbaikan taraf hidup masyarakat. Peran para juru dakwah mesti kreatif, inovatif dan dengan sentuhan hati. Perbaikan taraf ekonomi masyarakat dapat ditingkatkan dengan, misalkan, pengelolaan infaq, zakat dsc sehingga terjadi sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan manusia seutuhnya menuju kehidupan yang lebih baik, lahir dan batin.[]
Salam Persahabatan ParaDIsE.group

0 komentar :

Poskan Komentar

Silakan komentar yang baik dan sopan; Bisa Jowoan, Cak Madureh, 'Arabyat, English Arema, Melayu-Indonesia..