23 Agustus 2015

KAROMAT-KEMULIAAN


KAROMAT-KEMULIAAN
23 Januari 2004
في بلاياه عطاياه وفي محنه مننه

Tuhan tidak butuh sebab, sebab Dialah pencipta asbab. Untuk mengangkat derajat seseorang, sebab-sebabnya sangat samar, tak diduga dan disangka-sangka. Begitulah pekerjaan Tuhan, misterius. Karenanya, tidak patut bila seseorang kumandel terhadap nilai-nilai amal yang rasional. Suci lahir-batin adalah modal utama.

Terkisah, seorang syaikh yang termasyhur di seluruh penjuru negeri. Semua orang hormat-ta’dhim kepadanya. Isyaratnya menancap dalam hati, petuahnya ditaati, lenggahnya sangat didamba dan dinanti-nanti, dan.. salamnya adalah doa yang diijabahi.

Satu ketika, seorang muridnya, Salik, datang-sowan kepadanya. Tapi, di depan pintu dia tertegun mendengar di dalam rumah sang syaikh seperti ada ‘kerusuhan’. “Masuk-tidak-masuk-tidak-masuk!” Masuk, pas dihitungan jempol. Batinnya teguh untuk menghadap guru yang dirindukannya. Itung-itung berharap sowannya dapat menghentikan kerusuhan jika benar-benar terjadi.

“Assalamu’alaikum..” Serunya sambil membuka pintu. Dan.. benar saja, pas dia melongok bersamaan dengan sang guru dilempar gamparan oleh Bu Nyai.
Terperangah Salik menyaksikan pemandangan ‘menakjubkan’ itu. Batinnya ingkar setengah mati, “Aduhai, guruku yang disanjung orang senegeri, betapa terhinannya panjenengan di mata istri. Keganjilan apa yang kulihat ini?!”

“Diam, kau..!” Bentak sang syaikh yang sedari tadi mematikan rasa terhadap omelan sang istri. Kirain membentak Bu Nyai, ternyata jari gurunya menunjuk hidung Salik sendiri. “.. kalau bukan karena ketabahanku menghadapi hal ini, kau tidak bermimpi melihatku فى مقعد صدق عند مليك مقتدر.” Sergah gurunya.

Timingnya dirasa kurang tepat, Salik segera ngeloyor pergi. Hatinya gundah menyaksikan apa yang barusan terjadi terhadap guru yang diidolakan dan dikagumi. Tapi, husnudhon kepada gurunya segera ia dapat menenangkan hatinya kembali.
Sepanjang jalan dia berdialog seorang diri. Iya ya.. batinnya seingatku tak pernah mimpiku kuceriterakan pada siapapun. Syaikh tahu persis mimpiku. Ah, betapa unik Tuhan menjadikan sebab kemuliaan seseorang. Serupa dengan Sayyidina Abu Bakar yang, kata orang, istrinya suka ngomel. Padahal, kala itu, masih hangat sabda Nabi yang menyatakan bahwa seandainya diperkenankan sujud diantara sesama manusia, niscaya para istri diwajibkan sujud kepada suami.

Pendapat aku sih, solusi buat kasus kaya’ gitu, kiranya thalaq yang halal tapi dimurkai itu sudah cukup sebagai udzur syar’iy. ‘Emangnya tidak laku tah berisrti lagi?! Lagian, mestinya perempuan itu sadar bahwa kalau sudah beranak berarti tidak utuh lagi. Barang bekas tidak begitu diminati. Sedang kaum laki-laki, biar menikah berkali-kali tetap utuh.

Betapa besar kasih sayang guru terhadap Bu Nyai. Juga kaum laki-laki yang tabah atas kelakuan buruk istri. Tapi, mbok ya mikir sedikit seperi yang ku pikirkan tadi, kalau memang sabda Nabi hanya dianggap lelucon di masa kini, apa sih rahasia di balik sabda seorang Nabi, kalau bukan untuk menciptakan suatu tatanan keharmonisan yang suci?! Dengan begitu, bisa diraih karomah Ilahi.

Aku harus bisa menghilangkan pikiran jelekku, belajar mencontoh akhlak guruku. Aku cuma akan berpesan kepada kawan-kawanku agar berusaha nyembadani istri sebaik-baiknya. Sebab kalau tidak, atau bahkan terbalik, istri lebih berdaya dari pada suami, habis wilayah kehormatan suami dienjah-enjah. Kalau perlu, suami mau makan hanya disaut sambil tiduran, “Ambil sendiri, wong kari ngemplok ae koq..

Tidak! Aku mendambakan diriku tidak sebagai raja yang selalu minta dilayani. Ajang makanku kukorahi sendiri. Kopi cangkru’anku kubikin sendiri. Pakaianku kucuci sendiri. Tapi..

Aku juga mendamba istri yang berbakti pada suami. Yang ikhlas hati melayani, di kala tercukupi maupun saat belanja tak terpenuhi. Betapa indah kalau saling mengerti bahwa nafkah wajib berpahala tinggi, dan khidmah kepada suami merupakan jihad fi sabilillah seorang istri. Yang terjadi pasti saling berebut berbaik hati, bukan saling suruh dan menceramahi. Sadar menjaga jarak dalam batasan saling menghormati dan saling khidmah-melayani.

Tuan Guru, di hadapan Bu Nyai, panjenengan ibarat jari telunjuk ‘nempel di batang hidung. Mata kanan dan kiri melihat sisi yang kontradiksi. Terlalu dekatnya wilayah penilaian, membuat mata tak bisa jelas melihat apa yang dilihat orang senegeri. Hem..h.[]
Salam Persahabatan ParaDIsE.group

0 komentar :

Poskan Komentar

Silakan komentar yang baik dan sopan; Bisa Jowoan, Cak Madureh, 'Arabyat, English Arema, Melayu-Indonesia..